Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Jumat, 05 Desember 2014
CERITA SEBUAH HATI MERENUNGI TENTANG APA YANG IA RASAKAN
Cerita ini hanya untuk sebuah renungan pada diri sendiri, bukan untuk menilai atau menyalahkan seseorang apalagi untuk membenci orang lain.!!!
Coba renungi dlm hati yg BERSIH mengharap kebahagiaan yg SESUNGGUHNYA, mengharapkan kebenaran yg SESUNGGUHNYA.
Ada sebuah hati yg merasakan bahagia,seneng, dan berbunga-bunga seraya berkata: "indahnya berpacaran dengan dia. Dengan jujur hati nya berkata kepada dirinya sendiri hatiku senang, hatiku bahagia saat dia pegang tanganku, peluk tubuhku, cium pipiku, perhatiannya padaku dll.. meski aku SADARI kita BUKAN MUHRIM. Tapi hati ini sungguh senang dan bahagia rasanya dan aku ingin selalu bersama dia selamanya"
Pertanyaan:
Kenapa senang,?
Kenapa bahagia padahal BUKAN MUHRIM,?
Pdhal itu HARAM, padahal itu DOSA, padahal itu MAKSIAT mengundang MURKA Allah dan jalan menuju NERAKA.
Seperti tanpa sadar hati itu berkata: "seneng nya bermaksiat dengan dia, aku senang dan bahagia saat berdosa dan melakukan keharaman meski surga adalah kebahagiaan yang sebenarnya tapi menjalani perjalanan neraka sungguh menyenangkan dan membuatku bahagia. Dan aku ingin selalu bersama dia di neraka selamanya"
DAN
Jika ditanya benarkah kamu ingin masuk neraka,?
Apakah kamu hendak menentang Allah,?
PASTI
Jawaban nya "TIDAK". AKU INGIN MASUK SURGANYA ALLAH
APAKAH??
kamu hendak menuju SURGAnya ALLAH degan MENENTANGNYA,? (Justru melanggar larangan ALLAH,?)
Hem...????
Mau ke barat tapi jalannya ke timur,?
Mau dingin tapi yang dipegang api,?
Mau terbang melayang tapit melompat tanpa sayap/ tidak naik pesawat terbang,?
Mau menyelam tp tanpa alat bantu pernapasan oksigen,?
Mau BAHAGIA tapi NYIKSA DIRI dengan senang terbakar, terjatuh, tenggelam pada KESENGSARAAN BERTOPENGKAN KEBAHAGIAAN
M. Maulana
Sabtu, 29 November 2014
JANGAN MENUNGGU
- Jangan menunggu bahagia baru tersenyum, tapi tersenyumlah, maka kamu akan BAHAGIA
- Jangan menunggu kaya baru bersedekah, tapi bersedekahlah, maka kamu semakin KAYA
- Jangan menunggu termotivasi baru bergerak, tapi bergeraklah, maka kamu akan TERMOTIVASI
- Jangan menunggu dipedulikan orang baru kamu peduli, tapi pedulilah dengan orang lain! Maka kamu akan DIPEDULIKAN
- Jangan menunggu orang memahami kamu. baru kamu memahami dia, tâÞi pahamilah orangitu, maka orang itu akan MEMAHAMI mu
- Jangan menunggu terinspirasi baru menulis.tapi menulislah, maka inspirasi akan hadir dalam TULISAN mu
- Jangan menunggu projek baru bekerja, tapi bekerjalah, maka projek akan MENUNGGU mu
- Jangan menunggu dicintai baru mencintai, tapi belajarlah mencintai, maka kamu akan DICINTAI
- Jangan menunggu banyak uang baru hidup tenang, tapi hiduplah dengan tenang. Percayalah bukan sekadar uang yang datang tapi juga REZEKI YANG LAINNYA
- Jangan menunggu contoh baru bergerak mengikuti, tapi bergeraklah, maka kamu akan menjadi contoh yang DIIKUTI
- Jangan menunggu sukses baru bersyukur tapi bersyukurlah, maka bertambah KESUKSESAN mu
- Jangan menunggu bisa baru melakukan, tapi lakukanlah! Maka kamu PASTI BISA
- Jangan menunggu waktu luang tuk membaca Alqur'an, Tapi luangkan waktu tuk membaca AL QURAN
DONASI dapat di salurkan melalui rekening
1. BCA 6830.3280.31
2. Mandiri 156.00.0294612.9
3. BJB 002.4344.800.100
a/n Mohamad Ari Budiman (BLQ)
CP :
1. Iwan 089664288042
2. Maulana 081802938914
3. Ari Budiman 088801219474
Rabu, 12 November 2014
TERIMA UPAH DARI MENGAJAR AL QURAN
Abdul Laits Nashrun bin Muhammad as-Samarqandi (375)
menulis dalam kitabnya 'Bustanul 'Arifin' "Mengajarkan Al Quran itu ada
tiga macam :
- Seseorang mengajarkan Al Quran karena ikhlas semata, tidak meminta upah atasnya kecuali pahala Allah.
- Mengajarkan Al Quran dengan meminta upah.
- Mengajarkan Al Quran dengan tanpa syarat, jika di kasih hadiah dari mengajarnya itu, ia terima.
- Macam yang pertama mendapatkan pahala Allah atas perbuatannya, dan yang demikian itu telah menjadi bagian dari perbuatan para nabi.
- Macam yang kedua diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian ulama terdahulu (al-Mutaqaddimun) menetapkan "tidak boleh" karena mengajarkan Al Quran merupakan kewajiban, sebagaimana sabda Rasul, "Ballighul 'anni walau ayatan" (sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat). Sebagian ulama terkemudian (al-Mutaakhirun) menganggap "boleh" seperti 'Ashnan bin Yusuf, Nashrun bin Yahya, dan Abu Nash bin Salam.
- Adapun macam ketiga, disepakati "kebolehannya" oleh sekalian ulama, karena Nabi Saw pun sebagai pengajar (mu'allim) dan beliau menerima hadiah.
Alasan kelompok yang mengharamkan :
- Riwayat 'Abdurrahman bin Syiblin dari Nabi Saw, beliau bersabda : (yang artinya)
"Bacalah Al Quran dan janganlah kamu berlebih-lebihan padanya, dan janganlah kamu menjauhkan diri darinya, dan janganlah kamu makan atasnya, dan janganlah kamu mengumpulkan (harta) atasnya." (HR Ahmad) - Riwayat Imran bin Hushain dari Nabi Saw, beliau bersabda : (yang artinya)
"Bacalah Al Quran dan mintalah kepada Allah atasnya. Sesungguhnya akan ada satu kaum, nanti sesudah kamu, yang akan membaca Al Quran dengan meminta-minta kepada manusia atasnya." (HR Ahmad dan At-Tarmudzi) - Riwayat Ubay bin Ka'b :
"Saya telah mengajarkan Al Quran kepada seseorang laki-laki, lalu ia menghadiahkan kepada saya satu panah. Kemudian saya kabarkan hal itu kepada Nabi Saw. Beliau bersabda : "Jika engkau terima panah itu, sama halnya dengan engkau menerima panah dari api." Karena itu, saya kembalikan panah itu." (HR Ibnu Majah)
Alasan kelompok yang membolehkan :
- Hadist-hadist tersebut diatas dan yang lain-lainnya, yang melarang "mengambil upah dari mengajarkan Al Quran semuanya tidak bersih dari cacat, seperti yang di isyaratkan oleh al-Hafidz asy-Syaukani, ".....kana fi kulli thariqin min thuruqi hadzihil ahaditsi maqalun" (..... adalah ada pembicaraan pada setiap jalan dari semua hadist-hadist ini).
- Riwayat Ibnu Abbas dari Rasulullah Saw, beliau bersabda : (yang artinya)
"Sesungguhnya sesuatu yang paling hak untuk kamu ambil upah darinya ialah Kitab Allah." (HR al-Bukhari) - Riwayat Sahl bin Sa'd as-Sai'di :
"Dari Sahl bin Sa'd as-Sai'di ia berkata : "Telah datang seorang perempuan kepada Rasulullah Saw, lalu ia berkata, "Ya Rasulullah. Saya datang untuk menghibahkan diri saya kepada Tuan." Rasulullah mengamatinya, beliau menaikkan pandangan padanya dan meluruskan pandangan, lalu beliau tundukkan kepalanya. Ketika si perempuan memandang bahwa Nabi belum juga memutuskan apa-apa didalam urusan itu, maka duduklah ia. Kemudian berdiri seorang dari sahabatnya seraya berkata, "Ya Rasulullah, jika Tuan tidak mempunyai hajat kepadanya, kawinkanlah saya dengannya." Nabi Saw bertanya, "Apakah engkau memiliki sesuatu?" ia menjawab' "Tidak, demi Allah, Ya Rasulullah." Nabi Saw berkata, "Pergilah kerumahmu dan carilah, barangkali engkau menemukan sesuatu." kemudian ia pergi dan kembali seraya berkata, "Demi Allah, saya tidak menemukan apa-apa." Rasulullah berkata, "Carilah walaupun hanya sebentk cincin dari besi." Kemudian ia pergi dan kembali seraya berkata, "Tidak ada. Demi Allah, saya tidak menemukan walaupun sebentuk cincin dari besi, tapi ini sarung ku- berkata Sahl : "Hartanya hanya sarungnya saja- maka setengah dari sarung itu untuknya." Rasulullah berkata, "Apa yang hendak engkau perbuat untuk dengan sarungmu. Jika engkau memakainya, tiada sesuatu untuk dia (perempuan), dan jika dia yang memakainya, maka tidak ada sesuatu bagimu." Kemudian si laki-laki itu duduk, sehingga sesudah lama duduknya ia berdiri.
Rasulullah melihat dia sedang berpaling, lalu beliau memerintahkan seseorang untuk memanggilnya. Setelah ia datang, Nabi Saw bertanya, "Apakah engkau hafal sesuatu dari Al Quran?" ia menjawab, "Saya hafal surat anu dan anu." ia menyebutkan beberapa. Nabi Saw berkata, "Bisakah engkau membacakannya dengan hafal?." ia menjawab, "Ya." Nabi Saw bersabda, "Pergilah, sesungguhnya aku telah menjadikan dia sebagai milikmu dengan ayat-ayat Al Quran yang ada padamu."
Hadist diatas diriwayatkan oleh Mutaffaqun 'Alaihi dan lafadz nya
menurut riwayat Muslim. Dalam riwayat lain, disebutkan dengan lafadz: Nabi berkata kepadanya, "Pergilah, sungguh aku telah mengawinkan kamu kepadanya, maka ajarilag dia sebagian dari Al Quran."
Dalam riwayat Bukhari disebutkan : "Kami telah menjadikan di sebagian milikmu dengan (mas kawin) ayat-ayat Al Quran yang ada padamu."
Dalam riwayat Abu Daud yang bersumber kepada Abu Hurairah, disebutkan dengan lafadz :
"Nabi bersabda, "Apa yang engkau hafal?" ia menjawab, "Surat Al Baqarah dan yang selanjutnya." Nabi bersabda, "Bangunlah dan ajarilah dia 20 ayat."
"Nabi bersabda, "Apa yang engkau hafal?" ia menjawab, "Surat Al Baqarah dan yang selanjutnya." Nabi bersabda, "Bangunlah dan ajarilah dia 20 ayat."
Salah satu faedah yang dipetik dari hadist-hadist diatas ialah bahwa, "Mengajarkan Al Quran bisa menjadi mas kawin."
Wallahualam bishowabh..
Cibinong, 12 November 2014
www.basmalahlearningquran. blogspot.com
@BLearningQuran
FB Basmalah Learning Quran
@BLearningQuran
FB Basmalah Learning Quran
Minggu, 14 September 2014
Titik-Titik Godaan Syetan
Syahdan, ketika Isma'il kecil dituntun ayahandanya, Nabi Ibrahim AS,
ketempat penyembelihan di Mina, datang syetan menggoda. Ia membujuk Isma'il
supaya membangkang pada ayahnya. Tapi, godaan itu tidak mempan. Isma'il tetap
tak tergoyahkan meski bujukan dilancarkan berkali-kali oleh syetan. Isma'il
malah melempari syetan dengan batu. Ternyata syetan tak putus asa. Sementara
Isma'il terus berjalan, ia melancarkan bujukan mautnya. Kembali Isma'il melemparinya.
Dan karena masih digoda lagi, ia melemparinya yang ketiga kalinya.
Pada tahun 1292 H, disekeliling tiang-tiang itu dibuatkan tembok yang
menyerupai sumur atau kolam bulat. Tujuannya, supaya jamaah haji yang jumlahnya
kian banyak itu tidak terlalu berdesakan pada tiang. Selain itu, juga untuk
mengumpulkan batu-batu yang dilempar di satu tempat.
Dari sini tahulah kita, dalam melempar jumrah tidak ada keharusan batunya masuk kedalam sumur. Yang penting lemparan tersebut mengenai tiang Jamarat.
Bantuk sumur pada ketiga Jamrat itu tidak sama. Kalau di Sughra dan Wustha bentuknya ligkaran penuh. Namun di 'Aqabah bentuknya hanya setengah lingkaran. Hak ini dikarenakan, tiang 'Aqabah itu dulunya menempel pada bukit. (Rupanya syetan saat dilempar terakhir kali berada dibukit tersebut, Bukit tersebut tidak terlalu tinggi, hanya beberapa meter, 100 meter).
Nah setelah bukit itu diratakan dengan tanah untuk perluasan jalan, bentuk setelah lingkaran tadi tidak diubah. Hal ini guna menghindari kesalahan melempar yang dulu ada bukitnya.
Kini tempat jumrah terdiri atas dua susun. Lantai atas (yang bentuknya menyerupai fly over dan disebutJembatan Jamarat itu) dibangun pada 1383 H (1963 Masehi) guna menampung jamaah haji yang semakin meningkat jumlahnya.
Semoga bermanfat
Wassalamu'alaikum Wr. Wb
Di tiga titik tempat syetan dilempar itulah kemudian didirikan tiang-tiang.
Tiang-tiang itulah yang kini dilempari oleh jemaah haji dalam jumrah. Ketiga
tiang itu dinamai Jamarat (tempat-tempat melempar), masing-masing Jamrah Sughra
(Ula), Jamrah Wustha dan Jamrah 'Aqabah. Ketiganya berada pada jarak
berdekatan. Yaitu 247 meter antara 'Aqabah dan Wustha, dan 200 meter antara
Wustha dan Sughra.
Dari sini tahulah kita, dalam melempar jumrah tidak ada keharusan batunya masuk kedalam sumur. Yang penting lemparan tersebut mengenai tiang Jamarat.
Bantuk sumur pada ketiga Jamrat itu tidak sama. Kalau di Sughra dan Wustha bentuknya ligkaran penuh. Namun di 'Aqabah bentuknya hanya setengah lingkaran. Hak ini dikarenakan, tiang 'Aqabah itu dulunya menempel pada bukit. (Rupanya syetan saat dilempar terakhir kali berada dibukit tersebut, Bukit tersebut tidak terlalu tinggi, hanya beberapa meter, 100 meter).
Nah setelah bukit itu diratakan dengan tanah untuk perluasan jalan, bentuk setelah lingkaran tadi tidak diubah. Hal ini guna menghindari kesalahan melempar yang dulu ada bukitnya.
Kini tempat jumrah terdiri atas dua susun. Lantai atas (yang bentuknya menyerupai fly over dan disebutJembatan Jamarat itu) dibangun pada 1383 H (1963 Masehi) guna menampung jamaah haji yang semakin meningkat jumlahnya.
Semoga bermanfat
Wassalamu'alaikum Wr. Wb
Langganan:
Postingan (Atom)















